MEMPERCAYAI KEBUTUHAN ANDA

xcz

Beberapa tahun lalu, saya punya keyakinan rohani yang tidak waras.
Saya percaya bahwa jika saya ingin menjadi seorang yang kudus, saya
TIDAK boleh mempercayai kebutuhan saya.  Karena saya memikirkan
keinginan saya sebagian besar dari kedagingan, bukan dari Roh Kudus.
Pesan yang saya terima adalah ini: “Takutlah akan dirimu.  Takutlah
akan keinginanmu.  Takutlah akan keegoisanmu.  Jangan percayai
dirimu.  Sebaliknya, percayalah kepada Tuhan.  Percayalah kepada
kelompokmu.  Percayalah kepada pemimpinmu.  Percayalah kepada
jaringan…”  (Inilah sebabnya mengapa ada begitu banyak pelecehan
rohani yang terjadi dalam kelompok-kelompok rohani.)
Oh, hal yang mengerikan untuk dipercaya!
Pendeta, pengkotbah, dan pastor senang menekankan pesan ini: “Jangan
percayai dirimu!”  Secara langsung atau tidak langsung, mereka akan
meminta anggota mereka untuk percaya saja pada kebijakan dan keputusan
pemimpinnya.  Secara tidak sengaja, mereka menghasilkan orang-orang
yang tidak bertumbuh secara emosional dan rohani, seperti bayi-bayi.
Bukannya memberi kebebasan, agama malah membelenggu kita menuju
ketidakdewasaan.  (Tuhan memanggil kita untuk menjadi seperti anak-
anak, bukan kekanak-kanakan.)

Tuhan Mempercayai Anda –
Kapan Anda Akan Belajar Mempercayai Diri Sendiri?

Sebaliknya, kita perlu mendengar sebuah pesan baru.
Pesan apa?  Bahwa Anda diciptakan segambar dan serupa dengan Tuhan!
Bahwa Anda tidak hanya baik.  Anda sangat baik!  Jadi percayalah pada
diri Anda karena Tuhan mempercayai Anda.  Ia mempercayai Anda dengan
menyebut Anda sebagai anakNya.  Ia mempercayai Anda dengan menanamkan
KerajaanNya di dalam Anda.  Ia mempercayai Anda dengan berdiam di
dalam diri Anda.  Ia mempercayai Anda dengan mengutus Anda menjadi
bukti kehadiranNya di dunia.  Ia mempercayai Anda untuk mengasihi
dengan cara Ia mengasihi…”
Wow!  (Percayalah pada saya, ketika saya berdoa, ketika saya membaca
Alkitab, ketika saya mendengarkan suara Tuhan di kedalaman hati saya,
saya mengatakan “Wow!” berulang-ulang kali.)
Dan salah satu cara untuk mempercayai diri Anda adalah dengan
mempercayai kebutuhan Anda.
Bukan kebutuhan dosa Anda.  (Itu adalah apa yang perlu Anda
sangkal.)  Tapi kebutuhan yang benar, sah, dan ditanamkan Tuhan.
Penuhi kebutuhan-kebutuhan itu.  Bahkan kebutuhan Anda untuk gembira.
Beberapa orang memandang semua kesenangan adalah buruk.  Moto mereka:
“Jika itu terasa menyenangkan, itu pasti tidak baik.”  Itu tidak
benar.
Saya percaya hidup yang diberikan Tuhan harus dinikmati dengan
maksimal.  Untuk dinikmati dengan sukacita.  Maka cicipilah.
Hiruplah.  Sukai.  Menarilah.  Menyanyilah.  Hiduplah!
Ketika kita menikmati hidup, kita juga mengijinkan orang lain untuk
menikmatinya.  (Pernahkah bertanya-tanya mengapa beberapa orang rohani
begitu sombong, mereka tidak membiarkan siapapun untuk menikmati
hidup?)
Cintai diri Anda!

Apa yang Menguras Anda?
Singkirkan Itu Jikan Anda Bisa

Saya tidak bermaksud untuk menulis sebuah daftar lengkap tentang
bagaimana Anda perlu memperhatikan diri Anda.  (Saya akan melakukannya
dalam tulisan panjang lainnya.)
Tapi ini sebuah pertanyaan yang saya ingin Anda tanyakan pada diri
sendiri: Apa yang menguras Anda?
Orang, hal, kegiatan, kelompok, kebiasaan, situasi, dan tempat apa
dalam hidup Anda yang menguras sukacita dan hidup dan energi dan
kekudusan Anda?  Apa yang mengisap kebahagiaan Anda?
Jika itu adalah sesuatu yang merupakan bagian dari tujuan mulia dalam
hidup Anda, maka hadapilah.  Tapi jika bukan, singkirkan itu!
Dengan melakukan itu, Anda akan bertumbuh dan memiliki lebih banyak
hidup dan energi untuk hal-hal yang benar yang Tuhan ingin Anda
lakukan.
Dengan kata lain, saya meminta Anda untuk menentukan batasan-batasan
Anda.

Kasihi Orang Berdosa Dan Orang Kudus Di Dalamnya

Kita tergoda untuk hanya melihat pendosa di dalam diri kita.
Ingatkan diri Anda bahwa juga ada seorang kudus di dalam diri Anda.
Pada ulang tahun saya yang lalu, saya mengadakan beberapa pesta
dengan teman-teman dekat.
Sudah menjadi tradisi kami bahwa kami menghormati orang yang berulang
tahun – maka kali itu menjadi giliran saya duduk di kursi panas.
Saya harus jujur terhadap Anda.  Selalu terasa mengerikan harus
dihormati oleh teman-teman selama satu jam – tapi beberapa waktu
sesudahnya, saya merasa Tangki Cinta saya terisi penuh.
Sebagai contoh, seorang teman menceritakan bagaimana saya membantunya
di saat ia mengalami kesusahan.  (Saya melakukannya?  Betulkah?)
Seorang teman lain menceritakan bagaimana ia begitu tersentuh oleh
belas kasihan saya.  Seorang teman lain menghormati saya karena saya
selalu ada di sisinya sekalipun ketika semua orang lain menolaknya.
Saya berharap ada kamera yang merekam!  Sehingga saya dapat melihat
dan mendengarnya lagi – khususnya ketika saya meragukan diri sendiri.
Ketika saya merasa kurang baik.  Ketika saya merasa saya tidak
berharga.  (Ya, saya melalui masa-masa itu.)
Ini adalah pengalaman yang umum.
Mari saya akhiri dengan menceritakan sebuah kisah indah yang saya
baca dalam seri Chicken Soup…

Ingatkan Diri Anda Bahwa Anda Adalah Seorang Kudus Di Dalam

Suatu hari, seorang guru meminta murid-muridnya untuk menuliskan nama-
nama murid yang lain di selembar kertas.  “Dan berikan jarak di antara
setiap nama,” instruksinya.
Ketika mereka selesai, sang guru berkata, “Di bawah setiap nama, ibu
ingin kalian menuliskan hal-hal baik yang kalian lihat dalam diri
orang itu.”  Dalam sekejap, anak-anak menyibukkan diri dengan tugas
itu dan memakan waktu hingga jam pelajaran usai untuk
menyelesaikannya.
Guru membawa kertas-kertas itu pulang dan menyortir materinya.  Di
atas secarik kertas per anak, ia menulis semua kelebihan yang
dituliskan oleh teman-teman sekelas mereka.
Pada jam pelajaran berikutnya, ia memberikan kertas-kertas itu kepada
anak-anak.  Mereka sangat senang membaca surat itu.  “Wow, betulkah
saya orang ini?” beberapa dari mereka berseru.
Bertahun-tahun kemudian, sang guru menerima sebuah telepon.  Salah
seorang mantan muridnya, yang telah menjadi seorang prajurit, terbunuh
di medan perang.  Bersediakah ia hadir dalam acara pemakaman?
Ia pergi dan melihat banyak dari mantan murid-muridnya yang
menyampaikan rasa berdukacita kepada keluarga yang ditinggalkan.
Ketika ia berdiri di sisi peti mati, menatap tubuh seorang pria muda
berseragam yang sudah tidak bernyawa, seorang wanita parobaya
menghampirinya.  “Apakah Anda guru SD putera saya?”
“Ya,” katanya, “Anda pasti ibunya.  Saya turut berdukacita.”
“Saya ingin menunjukkan sesuatu pada Anda,” kata ibu itu.  “Putera
saya menyimpan ini dalam dompetnya ketika ia meninggal.”  Ia menarik
secarik kertas lusuh.  Jelas kelihatan kalau kertas itu telah dilipat
dan dibuka berulang kali.
Bahkan sebelum membukanya, guru itu sudah tahu apa itu.  Itu adalah
secarik kertas yang berisi daftar kebaikan yang dilihat teman-temannya
dalam dirinya.  Disimpan dan dibaca selama bertahun-tahun.
Pada saat itu, murid-muridnya yang lain sudah berkumpul di sekeliling
mereka berdua.
Seorang pria muda di sisi sang guru berkata, “Ah, saya juga membawa
kertas saya ke manapun saya pergi.”
Seorang wanita di belakang berkata, “Saya masih menyimpan punya
saya.  Tersimpan dalam diary saya.”
Seorang pria lain berkata, “Saya memasang daftar saya di meja saya di
rumah.”
Seorang wanita lain berkata, “Kelihatannya kita semua menyimpan
kertas itu selama ini!”
Sang guru tersentuh tanpa dapat berkata-kata.
Mengapa secarik kertas sederhana itu begitu berarti?
Karena inilah kebenarannya:  Hidup dapat terasa kasar.  Pada berbagai
waktu, bahkan dapat terasa kejam.  Setiap kali kita gagal, setiap kali
kita menerima kritik, setiap kali kita ditolak, kita meragukan apakah
kita berharga.  Kita meragukan kebaikan kita.
 

 Kita sangat membutuhkan cinta.
Kita perlu mengasihi orang kudus dalam diri kita.
Teman, cintai diri Anda.
Setiap hari, rayakan kelebihan dalam diri Anda.  Rayakan kebaikan
Anda.  Rayakan keindahan diri Anda.
Bersyukurlah pada Tuhan untuk betapa indahnya Ia menciptakan Anda.
Kasihi orang berdosa dan orang kudus di dalamnya.

Semoga impian Anda menjadi kenyataan,
Bo Sanchez

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s